Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 April 2015

Efek Abu Vulkanik



Wilayah Madiun sekitar tertutup abu vulkanik Kelud
Madiun (ANTARA News) - Wilayah Madiun dan sekitarnya yang meliputi Kabupaten Magetan, Ngawi, Ponorogo, dan Pacitan, tertutup abu vulkanik akibat letusan Gunung Kelud yang berada di Kediri, Jawa Timur.

"Seluruh wilayah eks-Keresidenan Madiun terdampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Kelud, bahkan Gubernur Jatim Soekarwo menyatakan bahwa status Jawa Timur darurat Gunung Kelud," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun, Agus Subianto, Jumat.

Menurut dia, hujan abu vulkanik mulai terjadi pada Jumat dini hari setelah Gunung Kelud meletus. Hingga pagi sekitar pukul 09.00 WIB, hujan abu vulkanik masih terjadi.

Ketebalan abu vulkanik di wilayah Madiun dan sekitarnya berkisar antara 5 hingga 10 sentimeter. Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat dan kelancaran lalu lintas.

Untuk itu, pihak BPBD dibantu petugas terkait seperti Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Satuan Polisi Pamong Praja, dan kepolisian setempat masih melakukan pemantauan di lapangan. Selain memantau, BPBD juga mengimbau warga untuk mengenakan topi, masker, ataupun kaca mata jika keluar rumah.

"Jarak pandang hanya lima hingga 10 meter. Hal itu akibat debu vulkanik beterbangan karena terkena laju kendaraan dan sangat mengganggu lalu lintas juga kesehatan. Warga diminta berhati-hati," kata dia.

Pihaknya memperkirakan dampak dari hujan abu vulkanik Kelud masih akan terjadi hingga beberapa hari ke depan. Hal tersebut dapat berkurang jika hujan turun di kawasan Madiun dan sekitarnya.

Sementara, pantauan di lapangan, lalu lintas di Kota Madiun terlihat lumpuh. Aktivitas warga juga terganggu. Sekolah-sekolah juga terpaksa diliburkan dan sejumlah toko terlihat tutup.

"Hari ini terpaksa sekolah libur. Kasihan anak-anak didik tidak dapat berkegiatan dengan baik akibat udara tertutup abu Gunung Kelud," ujar seorang guru SDK Santo Yusuf yang berada di Jalan Diponegoro Kota Madiun, Feri Andrika.

Seperti diketahui berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Gunung Kelud di Kediri mengalami erupsi atau meletus pada Kamis (13/2) malam sekitar pukul 22.50 WIB. Gunung Kelud meletus setelah beberapa jam sebelumnya dinaikkan statusnya dari Siaga (Level III), menjadi Awas (Level IV).


Efek Buruk Debu Vulkanik Baru Terlihat Setelah Dua Minggu

Helmi Ade Saputra - Okezone
Selasa, 18 Februari 2014 17:06 wib
detail berita
Dampak abu vulkanik (Foto: ANT/Trial)
DEBU vulkanik yang menyebar luas akibat erupsi dari Gunung Kelud bisa secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan pada mata, kulit serta saluran pernapasan. Khusus untuk saluran pernapasan, dampak kesehatan tersebut baru terlihat beberapa waktu kemudian.

Dr.dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM mengatakan bahwa bila debu vulkanik sudah terpapar pada tubuh, maka saat itu pula tubuh sedang berusaha mengeluarkannya dari dalam tubuh. Oleh sebab itu, saat ini para tenaga kesehatan masih menunggu dampak debu vulkanik terhadap gangguan pernapasan.

“Efek akibat debu yang terhirup bisa muncul dua minggu setelah debu tersebut bertahan dalam sistem pernapasan seseorang. Kalau secara medis kita masih harus menunggu satu sampai dua minggu lagi untuk infeksi pernapasan bawah (pneumonia), sedangkan kalau ISPA bisa lebih cepat,”ujarnya pada Konferensi Pers PAPDI "Efek Debu Letusan Gunung Berapi Terhadap Kesehatan" di Kantor PB PAPDI, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (18/2/2014).

Lebih lanjut, Dr. Ari menjelaskan bila sebenarnya debu merupakan zat asing bagi tubuh dan ketika terhirup, maka tubuh berusaha menetralisirnya. Jika tidak berhasil dinetralisir, hal ini bisa mengakibatkan infeksi pernapasan.

“Debu itu masuk ke saluran pernapasan, sebelum masuk ke paru-paru akan tersaring terlebih dahulu. Tetapi, kalau debu yang terhirup terlalu banyak atau terlalu kecil bisa akan lolos, maka dapat menjadi pneumonia,”jelasnya

Sementara, menurut Dr. Ari para dokter harus mengantisipasi hal ini, seperti kemungkinan akan radang paru-paru karena terpapar debu vulkanik. Untuk menghindari debu vulkanik, korban erupsi Kelud dapat menggunakan masker jenis N95.

Jumat, 14/02/2014 18:52 WIB
Abu Vulkanik Gunung Kelud Sampai Juga di Sukabumi
Ahmad Toriq - detikNews

Alif/pasangmata.com
Jakarta - Abu vulkanik Gunung Kelud mengembara jauh. Abu yang tersusun dari kristal silika ini ternyata sampai ke Sukabumi, Jawa Barat.

"Di Sukabumi kita nyadar pas lihat jok motor ada debu beda dengan debu biasa, seperti yang di televisi," kata warga Sukabumi bernama Erwin yang memberi informasi lewat pasangmata.com, Jumat (14/2/2014).

Erwin menuturkan dia mendapati debu vulkanik di atas jok motornya sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu dia hendak pulang kerja dari kantornya yang terletak di Jl Jenderal Sudirman, Warudoyong, Sukabumi.

Debu itu tak hanya ada di motornya, tapi juga motor rekan-rekan kantornya. Setelah dicocokkan dengan informasi bahwa Bandung juga terguyur hujan abu vulkanik, Erwin yakin debu itu merupakan abu vulkanik Gunung Kelud.

"Kalau hujan abu intensitasnya sih rendah, hampir nggak kelihatan, tapi kita nyadarnya setelah lihat jok motor itu," ujarnya.

"Terus saya lihat berita di Bandung juga sudah ada abu vulkanik. Jarak sini dengan Bandung kan dekat," imbuhnya.

Abu Vulkanik Gunung Merapi Mencapai Klaten

Senin, 10 Maret 2014 11:08
Liputan6.com, Solo - Gunung Merapi kembali mengeluarkan hembusan abu pada Senin (10/3/2014) pagi. Akibatnya daerah di lereng Merapi terjadi hujan abu tipis.

Petugas Pos Pengawas Gunung Merapi, Selo, Boyolali, Ahmad Sopari mengatakan, hembusan abu yang keluar dari puncak Merapi terpantau sekitar pukul 06.45 WIB. Hembusan abu tersebut awalnya mencapai ketinggian sekitar 500 meter, namun berangsur hingga mencapai 1.500 meter.

"Gempa hembusan abu di Merapi itu berlangsung sekitar 20 menit. Berdasarkan hasil pemantauan tadi, arah hembusan abu itu mengarah ke sisi barat daya," kaya Sopari ketika dihubungi Liputan6.com, Senin (9/3/2014).

Ia mengaku belum menerima informasi maupun laporan adanya dampak terkait hujan abu di sekitar daerah lereng Merapi. Hanya, saat berlangsung hembusan abu itu juga sedang terjadi hujan gerimis di sekitar Merapi.

"Belum ada yang melaporkan terjadinya hujan abu. Kita masih menunggu adanya laporan itu," tutur dia.

Sementara itu, Koordinator Radio Komunitas Pasag Merapi Sukiman mengakui, dampak dari hembusan abu di puncak itu menyebabkan daerah lereng Merapi di Kemalang, Klaten, terjadi hujan abu tipis. Abu yang turun itu bercampur dengan gerimis yang mengguyur daerah tersebut.

"Hujan abunya tipis. Hujan abu yang bercampur air itu menempel di rumput-rumput," jelas dia.

Sukiman menuturkan, keluarnya abu vulkanik di puncak Merapi menyebabkan warga di sekitar Kemalang keluar rumah untuk melihat kondisi yang terjadi di puncak Merapi.
"Tadi pagi Ketua RT dan RW memukul kentongan untuk mengajak warga keluar rumah melihat Merapi. Setiap ada kejadian di Merapi, kentongan selalu dibunyikan supaya warga keluar rumah untuk melihat Merapi," jelas Sukiman.

Gunung Merapi Lontarkan Pasir, Warga Panik

Kamis, 27 Maret 2014 14:37
Liputan6.com, Solo - Aktivitas Gunung Merapi kembali mencemaskan warga. Suara letusan disertai kabut dan hujan pasir dari puncak Merapi membuat panik hingga warga berlarian menjauhi gunung itu.

"Warga kaget mendengar letusan di puncak Merapi. Mereka keluar rumah langsung berlarian menjauh dari Merapi," kata Koordinator Radio Komunitas Pasak Merapi, Sukiman kepada Liputan6.com di Solo, Jawa Tengah, Kamis (27/3/2014).

Sukiman menuturkan, setelah bunyi letusan, kemudian terjadi hujan kerikil dan hujan pasir selama 20 menit. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 13.12 WIB. Namun saat ini kondisi Merapi diperkirakan sudah stabil. Hujan air juga sudah mengguyur kawasan puncaknya.

"Hujan pasir itu kelihatannya mengarah ke sisi selatan dan tenggara dan meliputi 3 kecamatan, Kemalang, Musu, dan Cepogoh. Saat ini warga sudah kembali ke rumahnya masing-masing."

Petugas Pos Pengawas Gunung Merapi Ahmad Sopari di Selo, Boyolali mengatakan, aktivitas di puncak Merapi kali ini hanya bisa dipantau melalui alat seismograf. Kabut yang terjadi di puncak menyulitkan pemantauan.
"Secara visual hembusan yang terjadi di Gunung Merapi tidak bisa dilihat karena tertutup kabut. Saya hanya bisa melihat adanya embusan dari rekaman seismik dan suara," kata Sopari.

Ia melanjutkan, "Adanya kabut tersebut menyebabkan petugas pos pengawas tidak bisa memantau arah luncuran hembusan."

Cara Menanam Bibit Buah Durian



PERLAKUAN BIBIT JIKA SUDAH SAMPAI
1.      Buka tali yang ada di polibeg (gunakan silet tajam untuk memotong tali supaya tidak banyak goncangan)
2.     Buka polibeg, tambahkan tanah ke polibeg secukupnya
3.     Teduhkan bibit (jangan kena sinar matahari langsung)
4.  Siram bibit dengan 1 sendok teh NPK (jangan terlalu banyak) yang dilarutkan dalam 10 liter air untuk 10 bibit sampai tanah basah semua,
5.     lakukan penyiraman 2 hari sekali dengan air biasa.
6.     Kira-kira 2 atau 3 minggu bibit siap di tanam..

CARA MENANAM BIBIT DURIAN DAN PERAWATANNYA
1.      Jarak Tanam ideal 7Meter x 7Meter.
2.     Buat Lubang dengan ukuran Lebar, Panjang, dan dalam kurang lebih 80-100cm
3.     Tanah galian di masukkan kembali ke lubang sampai rata dengan tanah
4.     Letakkan bibit di atas lubang kemudian polibegnya dibuka menggunakan silet atau pisau yang tajam sehingga bibit  tidak banyak gonjangan selanjutnya bibit dibenamkan kurang lebih 15cm
5.     Timbunlah bibit menggunakan tanah setinggi polibeg. Pupuklah bibit dengan NPK dengan takaran 1 sendok teh yang dilarutkan dalam 10 liter air untuk 10 bibit dan semprot dengan gandasil D, yang dilakukan setiap 10 hari sekali.
6.     Kalau sudah ditanam kurang lebih 1 bulan dipupuk dengan pupuk kandang yang sudah matang (menyerupai tanah) yang ditaruh di sekitar tanaman dengan ukuran 1 gayung (jangan terlalu banyak). Lakukan setiap 3 bulan sekali
7.     Bila daun ada ulat, semprot dengan Diazinon atau fastak (produk lain yang fungsinya sama)
Tehnik menanam dengan cara ditinggikan di atas permukaan tanah menyerupai gunung dengan kawah di tengah, sesuai pengalaman kita  :
1.      Pohonnya Lebih cepat besar
2.     Akan merangsang tumbuhny akar di atas permukaan tanah sehingga Akan merangsang terbentuknya percabangan yang  bagus sehingga berbuahnya akan lebih MAXIMAL dan buahnya besar-besar
Lihat gambar di bawah :

Tanah

PermukaanTanah
Urugan tanah
Lubang tanah 1M x 1M x 1M
 







Pemeliharaan Tanaman
1.    Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan buah bertujuan untuk mencegah kematian durian agar tidak menghabiskan energinya untuk proses pembuahan. Penjarangan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup, rasa buah, ukuran buah dan frekuensi pembuahan setiap tahunnya. Penjarangan dilakukan bersamaan dengan proses pengguguran bunga, begitu gugur bunga selesai, besoknya harus dilakukan penjarangan (tidak boleh ditundatunda). Penjarangan dapat dilakukan dengan menyemprotkan hormon tertentu (Auxin A), pada saat bunga atau bakal buah baru berumur sebulan. Pada saat itu sebagian bunga sudah terbuka dan sudah dibuahi. Ketika hormon disemprotkan, bunga yang telah dibuahi akan tetap meneruskan pembuahannya sedangkan bunga yang belum sempat dibuahi akan mati dengan sendirinya. Jumlah buah yang dijarangkan ± 50-60% dari seluruh buah yang ada.
2.    Penyiangan
Untuk
menghindari persaingan antara tanaman dan rumput disekeliling selama pertumbuhan, perlu dilakukan penyiangan (± diameter 1 m dari pohon).
3.    Pemupukan
Sebelum melakukan pemupukan kita harus melihat keadaan tanah, kebutuhan
tanaman akan pupuk dan unsur hara yang terkandung dalam tanah.
a.    Cara memupuk
Pada tahap awal buatlah selokan melingkari tanaman. Garis tengah selokan disesuaikan dengan lebarnya tajuk pohon. Kedalaman selokan dibuat 20-30 cm. Tanah cangkulan disisihkan di pinggirnya. Sesudah pupuk disebarkan secara merata ke dalam selokan, tanah tadi dikembalikan untuk menutup selokan. Setelah itu tanah diratakan kembali, bila tanah dalam keadaan kering segera lakukan penyiraman.
b.    Jenis dan dosis pemupukan
Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang, kompos, pupuk hijau serta pupuk buatan. Pemupukan yang tepat dapat membuat tanaman tumbuh subur. Setelah tiga bulan ditanam, membutuhkan pemupukan susulan NPK (15:15:15) dengan  takaran sepucuk sendok teh perpohon dengan jarak kurang lebih 1 jengkal dari batang pohon. Selanjutnya, pemupukan susulan dengan NPK itu dilakukan rutin setiap empat
bulan sekali sampai tanaman berumur tiga tahun.
Setahun sekali tanaman dipupuk dengan pupuk organik kompos/pupuk kandang 1 kg per pohon pada musim kemarau. Pemupukan dilakukan dengan cara menggali lubang mengelilingi batang bawah di bawah mahkota tajuk paling luar dari tanaman.
4.    Pengairan dan Penyiraman
Bibit yang masih muda membutuhkan banyak air pada pertumbuhannya, tapi tanah tidak boleh tergenang terlalu lama atau sampai terlalu basah. Bibit yang baru ditanam membutuhkan penyiraman satu kali sehari, terutama kalau bibit itanam pada musim kemarau. Setelah tanaman berumur satu bulan, air tanaman dapat dikurangi sekitar tiga kali seminggu. Bibit yang dikebunkan dengan skala luas mutlak membutuhkan tersedianya sumber air yang cukup. Dalam pengairan perlu dibuatkan saluran air drainase untuk menghindari air menggenangi bedengan tanaman.
5.    Waktu Penyemprotan Pestisida
Untuk mendapatkan pertumbuhan bibit tanaman yang baik, setiap 2 minggu sekali bibit disemprot zat pengatur tumbuh Atonik dengan dosis 1 cc/liter air dan ditambah dengan Metalik dengan dosis 0,5 cc/liter air. Hal ini dilakukan untuk merangsang pertumbuhan tanaman agar lebih sempurna. Jenis insektisida yang digunakan adalah Basudin yang disemprot sesuai aturan yang ditetapkan dan berguna untuk pencegahan serangga. Untuk cendawan cukup melaburi batang dengan fungisida (contohnya Dithane atau Antracol) agar sehat. Lebih baik bila pada saat melakukan penanaman, batang dilaburi oleh fungisida tersebut.
6.    Pemeliharan Lain
Pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) berfungsi mempengaruhi jaringan-jaringan
pada berbagai organ tanaman. Zat ini sama sekali tidak memberikan unsur tambahan hara pada tanaman. ZPT dapat membuat tanaman menjadi lemah
sehingga penggunannya harus disesuaikan dengan petunjuk pemakaian yang
tertera pada label yang ada dalam kemasan, sebab pemakaian ZPT ini hanya dicampurkan saja.
HAMA DAN PENYAKIT
1.        Hama
1)        Penggerek buah (Jawa : Gala-gala)
Ciri                    : telur diletakkan pada kulit buah dan dilindungi oleh jaring-jaring mirip rumah laba-laba. Larva yang telah menetas dari telur langsung menggerek dan melubangi dinding-dinding buah hingga masuk ke dalam. Larva tersebut tinggal di dalam buah sampai menjadi dewasa. Buah yang diserang kadang-kadang jatuh sebelum tua.
Penyebaran        : serangga penggerek buah menyebar dengan cara terbang dari pohon yang satu ke pohon lainnya. Serangga penggerek buah ini bertelur pada buah yang dihinggapinya. Kegiatan bertelur ini dilakukan secara periodik setiap menjelang musim kemarau.
Pengendalian     : dilakukan dengan insektisida, seperti Basudin, Sumithion 50 AC, Thiodan 35 EC, dengan
dosis 2-3 cc/liter air.
2)        Lebah mini
Ciri                    : hama ini berukuran kecil, tubuhnya berwarna coklat kehitaman dan sayapnya bergaris putih lebar. Setelah lebah menjadi merah violet, ukuran panjangnya menjadi 3,5 cm. Pada fase ulat (larva), hama ini menyerang daun-daun muda. Selama hama tersebut mengalami masa istirahat (bentuk kepompong), mereka akan menempel erat pada kulit buah. Setelah menjadi lebah serangga ini mencari makan dengan cara menggerek ranting-ranting muda dan memakan daun-daun muda.
Pengendalian     : menggunakan parvasida, seperti Hostathion 40 EC (Triazofos 420 gram/liter), dan insektisida, seperti Supracide 40 EC dosis 420 gram/liter dan Temik 106 (Aldikarl 10%).
3)        Ulat penggerek bunga (Prays citry)
Ulat ini menyerang tanaman yang baru berbunga, terutama bagian kuncup bunga dan calon buah.
Ciri                    : ulat ini warna tubuhnya hijau dan kepalanya merah coklat, setelah menjadi kupu-kupu berwarna merah sawo agak kecoklatan, abu-abu dan bertubuh langsing.
Gejala                : kuncup bunga yang terserang akan rusak dan putiknya banyak yang berguguran. Demikian pula, benang sari dan tajuk bunganya pun rusak semua, sedangkan kuncup dan putik patah karena luka digerek ulat. Penularan ke tanaman lain dilakukan oleh kupu-kupu dari hama tersebut.
Pengendalian     : dengan menyemprotkan obat-obatan seperti Supracide 40 EC, nuvacrom SWC, Perfekthion 400 EC (Eimetoat 400 gram/liter).
4)        Kutu loncat
Ciri                    : serangga berwarna kecoklatan dan tubuhnya diselimuti benang-benang lilin putih hasil sekresi tubuhnya; bentuk tubuh, sayap dan tungkainya mirip dengan kutu loncat yang menyerang tanaman lamtoro.
Gejala                : kutu loncat bergerombol menyerang pucuk daun yang masih muda dengan cara menghisap cairan pada tulang-tulang daun sehingga daun-daun akan kerdil dan pertumbuhannya terhambat; setelah menghisap cairan, kutu ini mengeluarkan cairan getah bening yang pekat rasanya manis dan merata ke seluruh permukaan daun sehingga mengundang semut-semut bergerombol.
Pengendalian     : daun dan ranting-ranting yang terserang dipangkas untuk dimusnahkan. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida Supracide 40 EC dosis 100-150 gram/5 liter air.
2.        Penyakit
1)        Phytopthora parasitica dan Pythium complectens
Penyebab                         : Pythium complectens, yang menyerang bagian tanaman seperti daun, akar dan percabangan.
Penularan dan penyebab : penyakit ini menular dengan cepat ke pohon lain yang berdekatan. Penularan terjadi bila ada akar yang terluka. Penularan terjadi bersama-sama dengan larutnya tanah atau bahan organik yang terangkut air.
Gejala                              : daun yang terserang menguning dan gugur mulai dari daun yang tua, cabang pohon kelihatan sakit dan ujung-ujungnya mati, diikuti dengan berkembangnya tunas-tunas dari cabang di bawahnya. Kulit di atas permukaan tanah menjadi coklat dan membusuk. Pembusukan pada akar hanya terbatas pada akar-akar sebelah bawah, tetapi dapat meluas dari ujung akar lateral sampai ke akar tunggang. Jika dilihat dari luar akar yang sakit tampak normal, tetapi jaringan kulitnya menjadi colat tua dan jaringan pembuluh menjadi merah jambu.
Pengendalian                   : (1) upayakan drainase yang baik agar tanah tidak terlalu basah dan air tidak mengalir ke permukaan tanah pada waktu hujan; (2) pohon yang sakit dibongkar sampai ke akarnya dan dibakar.
2)        Kanker bercak
Penyebab                         : Pythium palvimora, terutama menyerang bagian kulit batang dan kayu. Penyebaran oleh spora sembara bersamaan dengan butir-butir tanah atau bahan organik yang tersangkut air. Penyebaran penyakit ini dipacu oleh curah hujan yang tinggi dalam cuaca kering. Jamur dapat tumbuh dengan baik pada suhu
antara 12-35 derajat C.
Gejala                              : kulit batang yang terserang mengeluarkan blendok (gum) yang gelap; jaringan kulit berubah menjadi merah kelam, coklat tua atau hitam; bagian yang sakit dapat meluas ke dalam sampai ke kayu; daun-daun rontok dan ranting-ranting muda dari ujung mulai mati.
Pengendalian                   : (1) perbaikan drainase agar air hujan tidak mengalir dipermukaan tanah dan untuk batang yang sakit; (2) dilakukan dengan cara memotong kulit yang sakit sampai ke kayunya yang sehat dan potongan tanaman yang sakit harus dibakar, sedangkan bagian yang terluka diolesi fungisida, misalnya difolatan 4 F 3%.
3)        Jamur upas
Gejala                              : pada cabang-cabang dan kulit kayu terdapat benang-benang jamur mengkilat seperti sarang laba-laba pada cabang-cabang. Jamur berkembang menjadi kerak berwarna merah jambu dan masuk ke dalam kulit dan kayu sehingga menyebabkan matinya cabang.
Pengendalian                   : (1) serangan jamur yang masih pada tingkat sarang laba-laba dapat dikendalikan dengan cara melumasi cabang yang terserang degan fungisida, misalnya calizin RM; (2) jika jamur sudah membentuk kerak merah jambu, sebaiknya dilakukan pemotongan cabang kirakira lebih 30 cm ke bawah bagian yang berjamur; (3) dengan menyemprotkan Antrocol 70 WP (propineb 70,5%), dosis 100-200 gram/liter air atau 1-1,5 kg/ha aplikasi.