Selasa, 11 Februari 2014

I D E O L O G I



I D E O L O G I

1.      Makna dan fungsi Ideologi
Secara etimologis ideologi yang dibentuk dari idea, berarti pemikiran, konsep, atau gagasan, dan logoi, logos artinya pengetahuan. Dengan demikian ideologi bererti ilmu pengetahuan tentang ide-ide, tentang keyakinan atau tentang gagasan. Orang yang pertama kali menggunakan istilah ideologi adalah Antoine Destutt, seorang filosuf Perancis, yang hidup semasa Revolusi Perancis.
Sesungguhnya istilah ideologi itu sendiri bersifat netral, tidak memihak kamanapun. Ia dapat digunakan oleh siapa saja, apakah oleh kaum kapitalis, kaum nasionalis atau kaum komunis, dan oleh lainnya. Ideologi hakekatnya menggambarkan tentang suatu tatanan kehidupan politik yang diyakininya sebagai yang paling ideal, disertai dengan cara-cara, program dan strategi untuk mewujudkan dan memperjuangkannya.
Carl J. Friederich mendifinisikan ideologi sebagai “suatu sistem pemikiran yang dikaitkan dengan tindakan. Ideologi secara khas mengandung suatu program dan  strategi untuk mewujudkan ajarannya, dan fungsi utamanya adalah untuk mempersatukan organisasi-organisasi yang dibangun berdasarkannya”. Surjanto Poespowardojo mendefinisikan ideologi sebagai “suatu kompleks pengetahuan dan nilai yang secara keseluruhan manjadi landasan bagi seseorang/masyarakat untuk memahami jagad raya atau bumi seisinya serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya”. Sedang Sastra Pratedja membatasinya secara singkat sekali, bahwa yang disebut ideologi adalah “seperangkat gagasan atau pemikiran yang berorientasi pada tindakan yang diorganisir menjadi suatu sistem yang teratur” (Sastrapratedja dalam “Pancasila sebagai Ideologi Negara, BP 7 Pusat: 142).
Dilihat dari peranan atau fungsi yang diperankannya sebenarnya ideologi tidak lebih dari suatu instrumental, adalah alat penjelas yang kaku dan ketat, yang dibutuhkan guna mengarahkan pikiran dan tindakan secara efisien. Ideologi menjadi instrumen yang menggantikan nalar dan daya pikir para pendukungnya.
                           
2.      Unsur Ideologi
Setiap ideologi, apapun namanya di dalamya pasti mengandung unsur-unsur yang sangat prinsip. Menurut Sastra Pratedja unsur-unsur tersebut adalah pertama, adanya suatu penafsiran (interprestasi) terhadap kenyataan/realitas. Kedua setiap ideologi memuat seperangkat nilai atau suatu preskripsi (ketentuan) moral. Hal ini berarti bahwa setiap ideologi secara implisit memuat penolakan terhadap sistem etika lainnya. Ketiga, Ideologi memuat suatu orientasi pada tindakan. Ideologi merupakan suatu pedoman kegiatan untuk mewujudkan nilai-nilai yang termuat di dalamnya. Lain halnya Kunto Wibisono yang mengemukakan bahwa setiap ideologi memuat tiga unsur yang sangat menonjol, yaitu pertama, adanya keyakinan; yakni ada gagasan-gagasan vital yang diyakini akan kebenarannya. Kedua, mitos; ada sesuatu yang dimitoskan secara optimik dan diterministik pasti akan menjamin tercapainya tujuan. Ketiga, Loyalitas; yakni menuntut adanya keterlibatan secara optimal dari para pendukungnya.
Sementara itu ada pula pandapat yang menyatakan bahwa dalam suatu ideologi ada beberapa hal yang akan dipersonifikasikan dan disakralkan, mempunyai pahlawan (bapak pendiri, penafsir, pemimpin kharismatis, dan martir), memiliki dokumen-dokumen suci (manifesto, deklarasi, konstitusi), memiliki ritus-ritus sendiri (janji, sumpah, hymne, mars, salam, dan hari-hari suci)
Dengan memperhatikan beberapa definisi di atas dapat dinyatakan bahwa unsur y ang paling pokok dalam ideologi adalah:
a.       Adanya suatu realitas hidup yang diyakini sepenuhnya
b.      Andanya tujuan hidup yang dicita-citakan
c.       Andanya cara atau program aksi guna mewujudkan terealisasinya tujuan hidup yang dicita-citakan

3.      Peranan Ideologi
Ideologi merupakan suatu kepercayaan yang dapat memainkan peranan yang sangat penting dalam proses memelihara integritas pendukungnya. Dan kalau ia merupakan ideologi negara ia akan memainkan peranan yang cukukp penting untuk memelihara integritas nasional. Namun demikian suatu ideologi benar-benar dapat berfungsi demikian tergantung dari kualitas yang ada pada dirinya, yang dapat diukur melalui tiga dimensi, yaitu dimensi idealisme, dimensi realitasm dan dimensi fleksibilitas
a)       Dimensi Realitas, dimensi ini mencerminkan kemampuan ideologi untuk mengagregasikan serta mengadaptasikan nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Ideologi mencerminkan citra bahwa dirinya sama dan sebangun (identik) dengan realitas yang ada dalam masyarakat.
b)      Dimensi Idealisme,  yaitu bahwa kadar atau kualitas idealisme yang tekandung di dalamnya mampu menggugah harapan, optimisme dan motivasi bagi para pendukungnya hingga gagasan-gagasan pokok (vital) yang terkandung di dalamnya benar-benar diyakini pasti diwujudkan dalam kenyataan.
c)       Dimensi Fleksibalitas, dimensi ini mencerminkan kemampuan suatu idiologi dalam mempengaruhi dan sekaligus menyesuaiakan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakatnya.

Mempengaruhi berarti ikut mewarnai proses perkembangan masyarakat. Sedang menyesuaikan diri berarti bahwa masyarakat berhasil menemukan interprestasi- interprestasi (penafsiran) baru terhadap nilai-nilai dasar dari ideologi tersebut sesuai dengan realita-realita baru yang muncul selalu relevan sebagai idealisme yang wajar. (Alfian, 1978 : 108 – 116)
Melalui ketiga dimensi ini akan dapat diteliti apakah suatu ideologi memiliki kemampuian untuk memelihara relevansinya, yaitu titik keseimbangan sebagai tempat bertemunya konsensus antara berbagai kelompok/atau dimilikinya. Dan bagi suatu negara manakala titik keseimbangan tersebut hilang akan dapat mengancam integritas nasional.

1.      Dua Macam Tipologi Ideologi
Secara garis besarnya ada dua macam tipologi ideologi, yaitu:
a.       Ideologi tertutup
b.      Ideologi terbuka
a)      Kunto Wibisono menjelaskan bahwa salah satu unsur ideologi yang sangat menonjol adalah perlunya loyalitas atau kesetiaan gai setiap anggota pendukung suatu ideologi. Namun harus diingat bahwa kalau dalam menanamkan jiwa ideologi itu terlalu kelewat batas akan melahirkan sikap ‘taqlid buta’. Dan hal itu akan lebih diperparah lagi kalau dalam diri ideologi itu sendiri merupakan ideologi yang menutup diri rapat-rapat dari berbagai interprestasi baru utnuk disesuaikan dengan tuntutan zaman. Sastrapratedja menjelaskan bahwa “salah satu kecenderungan ideologi adalah melebih-lebihkan sudut pandangnya dan kerapkali kebenaran, sehingga pemahaman mengenai kenyataan mengalami ditorsi” (Sastrapratedja, Ibid.). Van Peursen mengingatkan bahwa hakekatnya ideologi itu tidak lain dari sarana manusia untuk memahami dunianya, mamahami dan menafsirkan kebudayaannya sendiri dan kebudayaan bangsa lain. Oleh karena itu kalau ada sikap ketertutupan maka ideologi itu akan kehilangan fungsinya sebagai pembimbing kelakuan manusia (lihat Pancasial, dalam tinjauan Historis, Yuridis, dan Filosofi – Mustafa Kamal dkk: 101 – 102).
b)      Ideologi terbuka yaitu ideologi yang pada dirinya memiliki unsur flesiblilitas. Unsur ini mencerminkan adanya kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat.

2.       Beberapa Ideologi Besar
      Pada dasarnya beberapa ideologi besar yang akan diuraikan berikut adalah berangkat dari pemahaman mereka terhadap hakekat sifat manusia sebagai mahluk individu maka akan melahirkan faham hidup: Individualisme. Sebaliknya kalau hanya dilihat dari sifatnya sebagai mahluk sosial maka akan melahirkan faham hidup: Sosialisme.

A.    INDIVIDUALISME
Dunia Eropa selama berabad-abad lamanya dikungkung oleh faham Universalisme, suatu pandangan hidup yang membelenggu kebebasan berfikir dan berpendapat. Faham yang dikembangkan dari faham Teokrasi ini mengajarkan bahwa manusia adalah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia Kristen. Sebaliknya terhadap dunia, manusia mempunyai arti tersendiri sebagai mahluk yang berpribadi dan bebas mandiri.
Dalam ajaran Individualisme liberal, seluruh aspek kehidupan, baik kehidupan bermasyarakat maupun bernegara dikembangkan prinsip ‘free figt competation’ secara bertanggungjawab, demi tetap eksis dan survivernya setiap individu (struggle for life and survival of the fittest) Dan khususnya dalam manifestasi ekonominya, faham Liberalisme mengakui terhadap hak-hak individu untuk melakukan aktifitas ekonomi yang bebas dan pertukaran berdasarkan kepemilikian pribadi dan pasar.
Secara garis besarnya dalam ideologi Liberalisme beberapa prinsip yang dikembangkan, yaitu:
a.       Penjaminan akan hak milik seseorang; hak milik privat merupakan elemen paling penting dari ideologi lIBERALISME. Dalam faham ini pemilikan sepenuhnya berada pada pribadi masing-masing, dan dalam faham ini tidak berlaku istilah “hak milik berfungsi sosial”. Faham Liberalisme manjamin sepenuhnya bahwa setiap orang mempunyai hak sepenuhnya untuk menguasai, menggunakan dan melakukan perjanjian dengan fihak lain atas barang-barang ekonomi.
b.      Mementingkan diri sendiri (self intterest); prinsip ini mengandung arti membiarkan kepada setiap orang untuk melakukan berbagai aktifitas untuk kepentingannya sendiri. Aktifitas untuk tujuan mementingkan diri sendiri diyakini tidak akan membawa kekacauan, bahkan sebaliknya akan membawa kepada kemakmuran bersama.
c.       Pemberian kebebasan penuh; prinsip ini menegaskan bahwa individu merupakan hal yang primer, sedangkan lembaga, masyarakat dan negara adalah hal yang sekunder. Bila setiap orang secara individu mendapatkan kepuasan, maka masyarakat akan mendapatkan kemakmuran yang sebesar-besarnya, atauy yang disebut dengan keselarasan kepentingan (harmony of intterest)
d.      Persaingan Bebas (free competition)
(Hudiyanto, Keluar dari Ayun Pendulum Kapitalisme – Sosialisme, PPE UMY: 21 – 24)
Berpangkal dari beberapa prinsip ini sangat wajar sekali kalau pada akhirnya akan lahir kelompok pemilik modal besar yang dapat memenangkan perkelahian. Kelompok inilah yang akan menentukan segala-galanya, seperti kelompok ‘Wall Street’, yaitu kelompok Yahudi Amerika yang memiliki lobi yang sangat kuat sekali terhadap pemerintah Amerika Serikat yang dimulai sejak perang saudara sampai pada hari ini. Sementara kelompok yang terkalahkan dalam perkelahian akan menjadi kelompok marginal, kelompok yang terpinggirkan, yang sekalipun merupakan kelompok yang terbesar namun tidak memiliki kekuatan yang siknifikan untuk menentukan kebijakan pemerintahannya.

KRITIK TERHADAP IDEOLOGI INDIVIDUALISME LIBERAL
Kebebasan perseorangan yang merupakan inti dari ajaran Individualisme Liberal ini dalam pelaksanaanya justru menimbulkan kenyataan-kenyataan yang mengingkari asas-asas ajarannya sendiri, yaitu asas persamaan manusia. Bahkan sebaliknya justru menimbulkan ketidakadilan, yang di dalam pertumbuhan selanjutnya mengakibatkan muculnya berbagai macam bentuk tindakan yang tidak manusiawi, seperti imperialisme dan kolonialisme, baik gaya lama maupun gaya baru.
Cita-cita kebebasan individu yang secara ‘an-sich’ memang ideal, namun ternyata dalam perkembangan pelaksanaannya menimbulkan ekses-ekses yang mematikan asas yang sama bagi manusia atau bangsa lain. Pelaksanaan asas persamaan individu ternyata hanya membawa segi yang positif di lapangan politik semata, sementara, dalam lapangan sosial ekonomi justru mengandung segi-segi negatif sebagaimana yang digambarkan di atas. (Roeslan Abdulgani. Resapkan dan Amalkan Pancasila. 62)
Carol C. Gould menyebutkan ada dua kritik terhadap individualis liberal, pertama, konsepnya tentang manusia sebagai individu yang asosial dan egois, yang motivasi  utamanya dalam bertindak adalah pemenuhan kepentingan sendiri…Ideologi ini telah gagal menangkap sifaf sosial kegiatan manusia, atau bahkan melegitimasi model-model perilaku yang anti sosial dan keakuan – sesuatu yang tidak dapat diterima secara moral. Kedua, ideologi ini mendukung dan membenarkan terhadap ketimpangan sosial ekonomi, dengan melindungi hak untuk menumpuk kekayaan pribadi secara tak terbatas tanpa memperhatikan akibat sosialnya. (C. Goudl, Demokrasi Ditinjau Kembali: 4).

B.     SOSIALIME
Robert Owen (1771 – 1858, Inggris) seorang kapitalis kaya yang ‘self made’ dan berhasil, yang oleh umum dianggap sebagai pendiri sosialisme. Inggris, adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah “SOSIALISME”. Tokoh sosialisme lainnya antara lain seperti Sir Thomas More dari Inggris, Andreae dan Campanella dari Italiam, Saint Simon, Fourier, Louis Blanc dan Proudhon dari Perancis, Albert Brisbane dan Horace Greeley dari USA.
Dalam pemikiran Robert Owen pertalian diantara demokrasi dan sosialisme adalah unsur satu-satunya yang paling penting dalam pemikiran dan politik sosialis. Dalam lintasan sejarah akan terlihat bahwa gerakan-gerakan sosial yang berhasil telah tumbuh hanya di negara-negara yang mempunyai tradisi demokrasi yang kuat. Sebab dari kesejajaran ini adalah sederhana sekali. Dimana-pun pemerintahan yang demokratis dan konstitusional pada umumnya diterima, kaum sosialis dapat memusatkan perhatian pada program mereka yang khusus, biarpun program itu kelihatannya terlalu luas, yakni: menciptakan kesempatan yang lebih banyak bagi kelas-kelas yang berkedudukan rendah.
Dalam menuju tata kehidupan yang bersifsat sosialistis, kaum sosialis bersepakat bahwa semua itu tidak harus dilalui secara revolusioner, dengan cara merebut kekuasaan lewat revolusi, dengan menggunakan kekerasan, akan tetapi harus tetap berjalan secara wajar dan tetap berpegang teguh pada cara-cara konstitusional. Mereka mencari kekuasaan lewat pemilihan umum bukan dengan peluru, bukan dengan jalan revolusi.
Beatrice Webb menegaskan dalam buku “Fabion Esseys” bahwa kehidupan sosialis hanya dapat terlaksana setapak demi setapak dengan disertai empat syarat, yaitu:
a.       perubahan harus dilalui secara demokratis, dapat diterima oleh mayoritas rakyat
b.       harus terlaksana secara berangsur-angsur (evolutif), dan tidak menimbulkan dislokasi
c.       harus jaga jangan sampai dianggap melanggar kesusilaan oleh rakyat
d.      harus dilalui secara konstitusional dan bersifat damai (Idem:194)

C.    MARXISME-LENINISME-KOMUNISME
Ideologi Marxisme-Leninisme termasuk salah satu varian dalam rumpun ideologi Sosialisme.
Ideologi Marxisme-Leninisme berasal dari ajaran Heinrich Karl Marx (1813-1883, Jerman). Tokoh ini berasal dari keluarga Yahudi yang sudah berganti agama menjadi Kristen Protestan. Ajaran Marxisme-Leninisme dibangun atas dasar pemikiran Karl Marx dan Friederich Engelsyang dikembangkan lebih jauh oleh W.E. Lenin.
Karl Marx menanamkan sosialisme yang dikembangkan oleh Robert dan kawan-kawannya dengan istilah sosialisme utopis, suatu sosialisme yang lahir karena merasa iba terhadap nasib orang-orang yang dilapisan bawah, seperti kaum buruh dan kaum pengangguran. Ide mereka ini muncul semata-mata karena terdorong oleh rasa kemanusiaan tanpa disertai tindakan-tindakan maupun konsepsi yang nyata mengenai tujuan dan strategi dari perbaikan yang mereka gagaskan. Sementara sosialisme yang dikembangkan (Karl Marx) diklaimnya sebagai sosialisme ilmiah (scientific socialism), yaitu sosialisme yang bukan lagi sebagai sebuah tuntutan etis, melainkan sebagai hasil ilmu pengetahuan tentang hukum perkembangan masyarakat.

Unsur-Unsur Ajaran Marxisme
Ajaran Marxisme terdiri dari tiga unsur, dan ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Artinya bahwa tidak mungkin memahami Historis Materialisme  yang dikembangkan oleh Karl Marx tanpa memahami terlebih dahulu filsafat Dialektika Materialisme yang dikembangkan olehnya. Adapun ketiga unsur tersebut ialah:
a.       Filsafat Dialektika, yaitu filsafat yang diambil dari ajaran Hegel (1770-1831), tetapi telah dirubahnya menjadi Dialektika Materialisme. Selanjutnya dari Dialektika Materialisme ini timbullah Historis Materialisme.
b.      Historis Materialisme, yaitu faham materialisme yang digunakan untuk memahami sejarah. Dan diantara bagian yang terpenting adalah teori tentang nilai lebih (surplus value)
c.       Teori tentang Negara dan Revolusi

Ajaran ini juga memberikan petunjuk-petunjuk dalam mengorganisir dan menggerakkan rakyat yang lapar, terhina dan tertindas, disertai juga dengan petunjuk-petunjuk mengenai aksi politik (Roeslan Abdulgani, Sosialisme Indonesia: 15)

a)      Filsafat Materilisme Dialektis
Dialektika
Ajaran yang digunakan dalam teorinya Karl Marx berasal dari filsafat Hegel. Marx mengambil dua unsur dari ajaran Hegel, yaitu gagasan mengenai terjadinya pertentangan antara segi-segi yang berlawanan, dan kedua, gagasan bahwa semua berkembang terus. Kalau pada teori Hegel pertentangan yanga berlangsung terus-menerus terjadi dalam dunia abstrak/ide, atau yang ada di alam fikiran manusia, Marx memindahkannya hukum dialektika tersebut dalam dunia kebendaan (materi). Oleh karena itu ia menamakan gagasannya dengan istilah MATERIALISME (Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik: 80). Berangkat dari pemikiran inilah ajaran Karl Marx dinamakan Materialisme Dialektika.
Adapun unsur-unsur dari dialektika adalah: tesis, antitesis dan sintetis. Tesis merupakan suatu keadaan yang tertentu, dan antitesis merupakan suatu tantangan terhadap tesis yang merombaknya. Kemudian dari pertentangan antara tesis dengan antitesis akan timbul suatu keadaan baru sebagai hasil dari adu kekuatan, yang dinamakan sintetis. Akan tetapi pada saat sintetis itu muncul, ia telah menjadi tesis baru karena berhadapan dengan tantangan baru dan begitu seterusnya. Mark memberi contoh untuk tesis, antitesis dan sintetis ini apa yang terjadi dalam masyarakat, yaitu Feodalisme, Kapitalisme, dan kemudian menjadi Sosialisme (M. Rasyidi, Islam Menentang Komunisme, 12)

Filsafat Materialisme
Filsafat Materialisme Adalah salah satu aliran dalam filsafat Metafisika. Faham ini merupakan suatu bentuk realisme, karena ia telah menumbuhkan yang nyata dengan materi. Tanpa mengecualikan sesuatu, seseorang penganut materialisme menganggap bahwa materi ialah satu-satunya hal yang nyata. Materi ialah hal yang terdalam dan bereksistensi atas kekuatan sendiri, dan tidak memerlukan suatu prinsip yang lain untuk menerangkan eksistensinya sendiri. Materi itu sendiri merupakan sumber serta keterangan terdalam bagi bereksistensinya segala sesuatu yang ada, bahkan juga bagi adanya jiwa manusia. (Kattsoff, Pengantar Filsafat, 1986: 123 – 124). Dengan demikian aliran ini berusaha menjalankan manusia menjadi proses-proses badaniyah atau dari aspek kebendaan semata-mata. Mereka berkeyakinan bahwa satu-satunya ’realitas’, ‘ada’, ‘boeing’, atau ‘ontos’ dalam hidup ini adalah materi, benda. Di luar benda sama sekali tidak ada sesuatu apapun. Dari pangkal keyakinan seperti ini filsafat Materialisme mengajarkan bahwa apa yang namanya jiwa/roh, akherat, surga neraka, sampai-pun Tuhan, karena semuanya bukan materi maka mereka secara apriori menolak eksistensi atau keberadaanya. Tegasnya, kata Feuerbach bahwa “di balik badan manusia itu tidak berada mahluk yang lain lagi, yang misterius, yaitu jiwa. Seperti juga dibalik alam tidak ada suatu Tuhan” (vab Peursen, Badan Jiwa-Roh: 59)
Kaum Materialis menyangkal adanya jiwa atau roh, (roh) ini mereka anggap sebagai pancaran dari materi (van Peursen, Orientasi di alam Filsafat, 1980, 158). La Metrie dalam bukunya “L’Homme machine” atau manusia adalah mesin menyatakan bahwa badan dan jiwa manusia itu tersusun sebagai suatu mesin yang banyak seluk beluknya dan yang dapat diselidiki seteliti-telitinya oleh ahli ilmu alam. Bahwa materi itu mempunyai sifat pandai bergerak, pandai, mengindera, pandai berfikir. Jacob Moleschortt (1822-1893) terkenal sekali dengan ucapannya “Ohne Fosfor keine Gedanke”, kalau tidak ada fosfor tidak akan ada pikiran manusia (ST Alisjahbana, Pembimbing ke Filsafat Metafisika, 32-33)

b)     Materialisme Historis
Historical Materialsasm artinya Materialisme dalam memahami sejarah. Menurut Thomas Carlyle dalam bukunya “Heroes and hero-worship” yang namanya sejarah adalah hanya beisi sejarah dari orang-orang besar , “The history of the world is but the biography of  greatmen”. Lain halnya dengan faham Historis Materialisme yang dikembangkan oleh Marx, di mana dalam “Manifesto Komunis” secara tegas dinyatakan bahwa “The history of all bithero existing society is the class struggles”. Sejarah dan semua masyarakat yang ada sekarang ini adalah sejarah perjuangan khas.
Lebih jauh Marxisme mengajarkan bahwa kehidupan masyarakat ditentukan oleh bidang ekonomi; bahwa negara dan ideologi hanyalah bangunan atas (upper-structure); bahwa bidang ekonomi ditentukan oleh pertentangan antara kelas pemilik dan klas pekerja; bahwa dinamika perkembangan  perkembangan ekonomi bersama dengan perjuangan klas niscaya bermuara dalam revolusi yang menciptakan masyarakat yang struktur kekuasaan dan perekonomiannya lebih tinggi; bahwa pertentangan itu akan diradikalkan dalam sistem kapitalis; bahwa oleh karena itu kapitalis itu sendiri akan melahirkan kehancurannya dalam revolusi sosial; bahwa revolusi sosialis akhirnya akan berhasil menciptakan klas; jadi tanpa bangunan atas, tanpa penghisapan, di mana “pra sejarah umat manusia berakhir” dan “Kerajaan Kebabasan” didirikan, demikian ditegaskan oleh Engels (Mudji Sutrisno: 136)
Dengan singkat, Karl Marx dengan historis materialismenya ingin menegaskan bahwa unsur pokok penggerak sejarah adalah tenaga produktifitas manusia, berdasarkan dorongan-dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kebendaan-ekonominya.

Teori Nilai Lebih (Surplus-Value)
Teori nilai lebih, Surplus value, Meerwaarde (Bld), Mehrwert (Jrm) merupakan pelengkap dari teori historia materialisme Karl Marx, di mana Marx dengan tajamnya menyoroti adanya nilai lebih dalam masyarakat Kapitalis. Teori Nilai lebih ini oleh Lenin disebutnya sebagai batu sudut (corner stone) doktrin ekonominya Karl Marx.
Dalam sistem ekonomi Kapitalisme  fungsi tenaga buruh dianggap sebagai barang dagangan, yang disejajarkan dengan faktor-faktor produksi lainnya, seperti faktor modal tetap (seperti gedung, mesin industri), modal lancar (seperti benang tenun dalam industri sandang) dsb. Tenaga kerja buruh itu adalah barang dagangan yang dijualnya kepada pemilik modal.

c)      Negara Dan Revolusi
Unsur ketiga dalam ajaran Marxisme adalah teori tentang Negara dan Revolusi. Dalam Manifesto Komunisme dikatakan bahwa negara merupakan lembaga ekskutif dari kaum borjuis. Engels berkata “The state is nothing more than a machine for apression of one class by another” Karl Marx dan Engels bersepakat bahwa negara ini suatu kejahatan (evil), karena negara adalah akibat dari adanya klas. Dalam masyarakat yang tidak berklas sebagaimana yang dicita-citakan oleh komunis dengan sendirinya negara itu tidak ada.
Kegiatan Komunis, demikian pendapat Lenin, harus dilakukan dengan dua jalan. Pertakma, kaum pekerja harus membentuk organisasi-organisasi buruh dengan tujuan ekonomi sebagai pokok aktifitasnya, yang bekerja secara terbuka, sah, dan sedapat mungkin secara umum. Berdampingan dengan organisasi-organisasi semacam itu, harus ada kumpulan-kumpulan kecil kaum revolusioner profesional, yang diatur menurut organisasi-organisasi tentara dan polisi, yang paling  terpilih, dan seluruhnya dirahasiakan…Lenin terutama mengajarkan agar kaum revolusioner provesional merembes dan membentuk sel-sel dalam semua badan-badan sosial, politik, pendidikan, dan ekonomi masyarakat, baik badan-badan tersebut berupa sekolah-sekolah, gereja-gereja, serikat-serikat buruh, maupun partai-partai politik. Terutama sekali Lenin menganjurkan agar kaum revolusioner profesional merembes ke dalam angkatan perang, polisi dan pemerintahan. Lenin juga mengajarkan agar kaum komunis hendaknya melakukan kegiatan di bawah tanah. Ia menganjurkan kapada kaum aktivis komunis untuk bekerja melalui organisasi-organisasi front, senantiasa mengubah nama dan petugas-petugas organisasi, tetapi selalu mengingat tujuan terakhir: PEREBUTAN KEKUASAAN SECARA REVOLUSIONER.

KRITIK TERHADAP IDEOLOGI MARXISME-LENINISME
Kritik terhadap filsafat Materialisme
Filsafat Materialisme yang dikembangkan oleh Karl-Mark adalah filsafat yang mengingkari terhadap hal yang bersifat non materi, termasuk juga tidak mempercayai adanya Tuhan. Abu Hanifah menjelaskan faham Materialisme sebagai suatu aliran pikiran yang mengutamakan benda (materi) dan membelakangi batin, dan dengan sendirinya segala keadaan batin, jiwa, dan yang bersangkutan dengan itu menurut Materialisme berasal dari benda-benda (Abu Hanifah, Rintisan Filsafah: 72). Materialisme mengatakan, bahwa pada akhirnya, pada dasarnya, atau pada prinsipnya, pada instansi yang terakhir, manusia itu hanya barang material, atau dengan kata lain hanya materi, tidak lain dari materi, betul-betul hanya materi, lain tidak. Menurut bentuknya dia memang lebih unggul. Akan tetapi hakekatnya sama saja. Manusia hanyalah resultante atau akibat dari proses unsur-unsur kimia (Driyarkara, 1966: 58). Kaum Materialisme menyangkal adanya jiwa atau roh. Jiwa atau roh ini mereka anggap sebagai pancaran dari materi “(van Peursen, Orientasi di Alam Filsafat: 158)

D.    SOSIAL DEMOKRASI
Ideologi Sosial Demokrasi yang pada hakekatnya merupakan ideologi sosialisme dengan menggunakan baju baru. Sosial Demokrasi ini merupakan ideologi yang kini banyak diterapkan di negara-negara Eropa.
Di negara-negara Eropa, 13 dan 15 pemerintahannya saat ini beraliran sosialisme atau sosial demokrasi, termasuk tiga negara utama: Inggris (Tony Blair), Perancis (Liones Jospin) dan Jerman (Gerhard Scrhoeder). Ideologi ini bertujuan membuat demokrasi lebih nyata dengan jalan memperluas pemakaian prinsip-prinsip demokrasi dari lapangan politik ke lapangan bukan politik dari masyarakat (William Ebenstein: 179)
Secara demokrasi mendasarkan ideologinya pada pikiran-pikiran Karl Marx. Namun demikian mereka bukannya termasuk pengikur yang bertaqlid buta, yaitu menerima begitu saja apapun yang diajarkannya, melainkan termasuk penganut faham Marxisme yang kritis. Mereka bukan pengikut Marxisme ortodoks, bukan pengikut Marx yang ditafsirkan Lenin, yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Stalin dan Mao. Mereka menolak konsep yang dikembangkan oleh Lenin, Stalin dan Mao, antra lain:
1.      konsep perjuangan revolusioner bersenjata selalu memakan korban yang tak terhingga nilainya;
2.      konsep demokrasi sentralisme di mana segala kebijakan ditentukan oleh pimpinan dan rakyat hanya boleh berdemokrasi pada tingkat pelaksanaanya;
3.      konsep partai pelopor yang disusun dengan disiplin dan struktur militer yang menghasilkan klas baru yang amat kejam;
4.      konsep diktator ploretariat yang pada hakekat dan kenyataannya adalah diktator yang sebenar-benarnya
5.      konsep penghapusan hak milik sebagai hal yang tidak manusiawil; dan
6.      konsep tentang sistem kapitalis negara sebagai hal yang sangat tidak realistis.

E.     SOSIALISME RELIGIUS
Dalam prakteknya  ada sekian banyak varian sosialisme, namun kalau kemudian dilihat dari flsafah yang melatarbelakanginya secara garis besarnya faham sosialisme ini dapat dibedakan menjadi dua, pertama sosialisme yang besifat sekuler, dan inipun masih dapat dibedakan lagi menjadi dua macam sosialisme, pertama, sosialisme Marxian dan sosialisme non Marxian. Kedua, sosialisme yang bersifat religius, yaitu sosialisme yang mendasarkan dirinya pada revelasi (a Genesis Theory). Secara garis besarnya sosial religius inipun dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sosialisme non Islam dan sosialisme Islam, yaitu sosialisme yang mendasarkan diri pada ajaran-ajaran al-Qur’an.
Tokoh Islam di Indonesia yang pertama kali menggagaskan ide sosialisme Islam adalah HOS Tjokroaminoto. Tokoh ini oleh Bung Karno disebut-sebut sebagai guru para aktifis pergerakan kemerdekaan, rumahnya disebutnya sebagai dapur nasionalisme Indonesia, karena dari pengakuan HOS Tjokroaminoto bermunculan generasi pemimpin-pemimpin pergerakan kemerdekaan berikutnya; bukan saja yang nasionalis seperti Soekarno, tapi juga tokoh komunis (PKI) seperti Semaoen dari SI cabang Semarang dan tokoh Islam fundamentalis (DI/TII) Sekarmadji Maridjan Kartosuwiro (Muhidin M. Dahlan: 111)

F.     PANCASILA
Dalam suatu kesempatan sewaktu Bung Karno menjelaskan Pancasila dikatakan bahwa ideologi Pancasila merupaka sublimasi dari ‘Declaration of Independence’ Amerika Serikat dengan ‘Menisfesto Komunisme’ atau ‘Hat Communitisch Manifest’ Karl Marx dan Engel.
Sebagaimana diketahui bahwa kalau dalam ‘Declaration of Independence’ orientasinya lebih ditekankan pada hakekat manusia sebagai mahluk individu yang bebas merdeka, tidak ada seorangpun yang berhak mencampuri urusan pribadinya. Manusia adalah pribadi yang memiliki harkat dan martabat yang sangat luhur lagi mulia. Dalam ‘Menisfesto Komunisme’ orientasinya sangat menekankan pada hakekat manusia sebagai mahluk sosial semata. Dalam faham ini manusia selaku mahluk pribadi, yang memiliki hak-hak dasar sama sekali tidak dihargai. Pribadi dikorbankan demi untuk kepentingan negara.
Di dalam ideologi Pancasila hakekat sifat manusia sebagai mahluk individu sekaligus sebagai mahluk sosial diletakkan secara seimbang (well balance). Bung Karno dalam menerangkan tentang seimbangnya antara kedua hakekat sifat tersebut digambarkan dengan ungkapan “Internasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak berakar dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya Internasionalisme” (Muhammad Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945: 74). Perpaduan secara harmonis antara hakekat sifat manusia sebagai mahluk  sosial sekaligus juga sebagai mahluk individu dalam ideologi Pancasila diformulasikan dalam sila kedua dan ketiga. Dan untuk menjaga agar hidup berkesinambungan tersebut terjaga dengan baik maka ia harus dilandasi dengan moral dan etika yang kokoh, yang bersumber pada ajaran agama.

Ideologi Pancasila adalah Ideologi Terbuka
Dari uraian di atas terlihat bahwa Ideologi Pancasila adalah ideologi yang memiliki dimensi realitas, karena nilai-nilai yang ada di dalamnya diambil dari nilai-nilai dasar yang hidup ditengah-tengah masyarakat pendukungnya, baik dari nilai-nilai budaya bangsa maupun nilai-nilai agama. Demikian pula ia memiliki dimensi idealisme, karena ia memberikan harapan dari optimisme untuk mewujudkan tujuan yang dicita-citakannya. Dan terakhir agar supaya ideologi Pancasila jangan sampai menjadi sebuah ideologi yang tertutup, suatu ideologi yang sama sekali tidak mau menerima interprestasi- interprestasi baru, sekalipun zaman dan masyarakat sudah berubah dan berkembang jauh ke depan, maka ideologi Pancassila harus memiliki dimensi fleksibilitas, yaitu menjadi ideologi yang terbuka terhadap  penafsiran-penafsiran baru karena tuntunan masyarakat. Dan bagi bangsa Indonesia sampai kapanpun harus dengan jujur, obyektif dalam mencermati sejarah terbentuknya ideologi Pancasila sebagaimana di atas ketika akan menginterprestasikannya dalam menghadapi perkembangan dan tuntunan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar